Rabu, 09 September 2026

“Ketika Kabut Asap Menyelimuti, Semangat Guru Tetap Menyala”

(Dok.2019)
                                                                           (Dok.2019)

                                                                            (Dok.2026)


Membangkitkan Semangat Belajar: Tokoh Senior Pendidikan Indonesia Memotivasi Guru SMP Negeri 1 Bengkayang

Bengkayang — FA.

Ada masa ketika pendidikan harus berjalan dalam keterbatasan. Ruang kelas yang biasanya dipenuhi suara guru dan peserta didik sejenak berganti menjadi layar-layar gawai. Namun, keadaan boleh berubah dan jarak boleh tercipta, tetapi semangat untuk mendidik tidak boleh kehilangan nyalanya.

Di tengah kondisi kabut asap yang melanda Bengkayang dan menyebabkan kegiatan pembelajaran dilaksanakan secara daring, keluarga besar SMP Negeri 1 Bengkayang mendapatkan pesan dan motivasi yang begitu berarti dari salah satu tokoh senior pendidikan Indonesia, Prof. Dr. H. Arief Rachman, M.Pd.

Melalui video singkat yang disampaikan melalui WhatsApp, Prof. Arief Rachman bersama Ustadz Rahmat Fajar, Wakil Kepala SMA Labschool, memberikan motivasi dan penguatan kepada guru-guru SMP Negeri 1 Bengkayang.

Pesan tersebut hadir bukan sekadar sebagai sapaan. Ia menjadi pengingat bahwa menjadi pendidik berarti tetap berdiri ketika keadaan tidak selalu mudah. Ketika pembelajaran tidak dapat berlangsung seperti biasanya, kreativitas, keteguhan, dan ketulusan guru justru semakin dibutuhkan.

Pembelajaran boleh berpindah dari ruang kelas ke ruang digital. Papan tulis boleh berganti menjadi layar. Tatap muka boleh berubah menjadi pertemuan daring. Namun, semangat mendidik, mengabdi, dan memberikan yang terbaik bagi peserta didik harus tetap menyala.

Bagi keluarga besar SMP Negeri 1 Bengkayang, perhatian tersebut menjadi energi positif yang menguatkan langkah para guru. Sebab terkadang, seseorang tidak membutuhkan sesuatu yang besar untuk kembali bersemangat. Sebuah pesan, sebuah perhatian, dan keyakinan bahwa perjuangan mereka berarti, sudah cukup untuk membuat langkah kembali tegak.

Pendidikan Tidak Boleh Berhenti Karena Keadaan

Menjadi guru bukan hanya tentang menyampaikan materi pelajaran. Lebih jauh dari itu, guru hadir untuk menjaga harapan. Di balik setiap tugas yang diberikan, setiap pesan yang dikirim kepada peserta didik, dan setiap pembelajaran yang tetap diupayakan berlangsung, ada tanggung jawab untuk memastikan bahwa anak-anak tidak kehilangan kesempatan untuk terus belajar.

Kabut asap mungkin membatasi jarak pandang, tetapi jangan sampai ia membatasi pandangan kita tentang masa depan.

Justru dalam keadaan seperti inilah semangat pendidikan menemukan maknanya. Teknologi menjadi jembatan, kreativitas menjadi jalan, dan ketulusan menjadi tenaga yang membuat proses pembelajaran terus bergerak.

Atas perhatian dan kepedulian yang diberikan, keluarga besar SMP Negeri 1 Bengkayang menyampaikan terima kasih kepada Prof. Dr. H. Arief Rachman, M.Pd. dan Ustadz Rahmat Fajar atas pesan, motivasi, serta penguatan yang diberikan kepada para guru.

Semoga pesan tersebut menjadi bahan bakar semangat bagi seluruh pendidik untuk terus bergerak, berkarya, dan menginspirasi generasi muda, dalam keadaan apa pun.

Karena pada akhirnya, pendidikan bukan tentang keadaan yang sempurna. Pendidikan adalah tentang bagaimana kita tetap memilih untuk menyalakan cahaya, bahkan ketika keadaan sedang tidak baik-baik saja.

Mengenal Prof. Dr. H. Arief Rachman, M.Pd.

Prof. Dr. H. Arief Rachman, M.Pd. dikenal sebagai salah satu tokoh pendidikan Indonesia yang memiliki perjalanan panjang dalam dunia pendidikan. Ia pernah dipercaya menjadi Kepala Sekolah SMA Labschool Rawamangun, Jakarta, serta pernah menjadi dosen luar biasa di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia dan Guru Besar di Universitas Negeri Jakarta.

Perjalanan tersebut menunjukkan bahwa pendidikan bagi Arief Rachman bukan sekadar profesi, melainkan ruang pengabdian yang terus hidup. Bahkan ketika tidak lagi aktif mengajar seperti dahulu, perhatian dan pemikirannya terhadap dunia pendidikan tetap hadir.

Sosoknya juga dikenal luas oleh masyarakat. Ia pernah tampil sebagai pembawa acara program keagamaan Hikmah Fajar di RCTI dan terlibat dalam berbagai aktivitas sosial serta pendidikan.

Namun, di balik berbagai jabatan dan kiprahnya, ada satu hal yang tampaknya tetap melekat pada dirinya: kecintaan terhadap dunia pendidikan dan para guru.

Sosok yang Dekat dengan Guru dan Pegiat Pendidikan

Kedekatan Prof. Arief Rachman dengan para pendidik bukanlah sesuatu yang baru. Hal tersebut tergambar dalam sebuah peristiwa pada awal 2017, ketika dirinya menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Gading Pluit, Jakarta.

Dalam pemberitaan detikNews pada 1 Februari 2017, sejumlah pegiat pendidikan dan guru disebut datang menjenguk setelah mengetahui kondisi Prof. Arief. Putranya, Rahadi Arief Rachman, menyampaikan bahwa ayahnya memang memiliki hubungan yang luas dengan guru-guru dan rekan seprofesinya.

Kabar tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa hubungan seorang tokoh pendidikan dengan para guru tidak berhenti pada ruang akademik. Ada ikatan kemanusiaan yang tumbuh dari perjalanan panjang, pengabdian, dan perhatian terhadap dunia pendidikan.

Dalam kunjungan tersebut, Sandiaga Salahuddin Uno, yang saat itu menjenguk Prof. Arief dan disebut sebagai keponakannya, juga menyampaikan bahwa kondisi Prof. Arief mulai membaik. Bahkan dalam keadaan sedang menjalani perawatan, Prof. Arief masih menunjukkan semangat dan berpesan agar orang-orang di sekitarnya tetap menjaga kesehatan.

Kisah itu menjadi potret kecil tentang sosok seorang pendidik yang tetap memiliki energi untuk menguatkan orang lain, bahkan ketika dirinya sendiri sedang berada dalam masa pemulihan.

Ayah bagi Keluarga Syekh Ali Jaber

Di balik sosoknya sebagai akademisi dan tokoh pendidikan, Prof. Arief Rachman juga memiliki kisah keluarga yang pernah mendapat perhatian luas masyarakat. Ia merupakan ayah mertua Syekh Ali Jaber, ulama dan pendakwah yang dikenal luas di Indonesia.

Dalam pemberitaan mengenai wafatnya Syekh Ali Jaber pada Januari 2021, Arief Rachman mengenang sosok menantunya dengan penuh penghormatan. Ia menggambarkan Syekh Ali Jaber sebagai pribadi yang rendah hati, santun, dan mampu menjalin hubungan yang baik dengan keluarga.

Salah satu hal yang paling berkesan bagi Arief Rachman adalah panggilan “Ayah” yang digunakan Syekh Ali Jaber ketika menyapanya. Bagi Arief Rachman, panggilan tersebut bukan sekadar sapaan dalam hubungan keluarga, tetapi mencerminkan penghormatan, kesantunan, dan kerendahan hati.

Kisah tersebut memperlihatkan sisi lain dari seorang Arief Rachman: seorang tokoh pendidikan yang juga memaknai keluarga, keteladanan, dan penghormatan sebagai bagian penting dalam kehidupan.

Dan mungkin di situlah pendidikan menemukan maknanya yang paling sederhana—bukan hanya apa yang diajarkan di ruang kelas, tetapi juga nilai-nilai yang ditunjukkan melalui sikap dan kehidupan sehari-hari.

Dari Jakarta ke Bengkayang, Semangat yang Terus Menyala

Kini, pesan Prof. Arief Rachman hadir di tengah keluarga besar SMP Negeri 1 Bengkayang.

Jarak Jakarta dan Bengkayang boleh terbentang jauh. Situasi dan zaman boleh berubah. Tetapi pesan seorang pendidik kepada pendidik lainnya selalu menemukan jalan untuk sampai.

Di tengah kabut asap, pembelajaran mungkin berlangsung melalui layar. Namun, dari layar itulah sebuah pesan kembali mengingatkan: guru harus tetap menjadi cahaya bagi murid-muridnya.

Hari ini guru mengajar melalui teknologi. Esok mungkin kembali berdiri di depan kelas. Apa pun medianya, tujuan pendidikan tetap sama: menuntun anak-anak untuk tumbuh, belajar, dan menjadi manusia yang lebih baik.

Kabut asap pada akhirnya akan berlalu. Pembelajaran daring suatu saat akan kembali menjadi pembelajaran tatap muka. Tetapi semangat untuk mendidik harus terus dijaga.

Sebab pendidikan tidak boleh berhenti hanya karena keadaan.

SMP NEGERI 1 BENGKAYANG

CERDAS DALAM BERPIKIR, UNGGUL DALAM PRESTASI.

Adil Ka’ Talino, Bacuramin Ka’ Saruga, Basengat Ka’ Jubata. 🙏

FA.
SMP Negeri 1 Bengkayang

Minggu, 01 Februari 2026

Guru Bahasa Indonesia Bengkayang Menguji Komitmen Profesi di Sungai Betung

 



       Sungai Betung—Di sebuah ruang kelas SMP Negeri 1 Sungai Betung, Kamis (29/1/2026), para guru Bahasa Indonesia SMP dan MTs se-Kabupaten Bengkayang berkumpul bukan sekadar untuk mencatat agenda rutin. Mereka datang untuk menata ulang komitmen profesi: menertibkan data, berbagi praktik baik, dan merumuskan langkah ke depan.

Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Bahasa Indonesia Kabupaten Bengkayang yang berlangsung sejak pukul 08.30 hingga selesai itu diikuti oleh pengurus dan anggota MGMP. Tidak ada gegap gempita. Acara dibuka secara sederhana lagu kebangsaan, lagu Mars Gembira Bergerak, doa, dan sambutan. Namun arah pertemuan jelas: memperkuat peran MGMP sebagai ruang belajar guru, bukan sekadar forum administrasi.

Dalam sambutannya, Fransiskus Antonius, S.Pd. sebagai Ketua MGMP Bahasa Indonesia Kabupaten Bengkayang menegaskan bahwa MGMP harus menjadi wadah berbagi praktik baik dan peningkatan kompetensi guru secara berkelanjutan. Forum ini, menurutnya, mesti melahirkan ide-ide segar pembelajaran. Guru tidak cukup hanya mengajar; ia harus terus belajar agar pembelajaran di kelas tetap hidup dan bermakna bagi siswa.

Kegiatan secara resmi dibuka oleh Kepala SMP Negeri 1 Sungai Betung, Susanto, S.Pd. Dalam sambutannya, ia menyampaikan apresiasi atas kehadiran para guru Bahasa Indonesia se-Kabupaten Bengkayang serta menaruh harapan besar agar MGMP Bahasa Indonesia terus menjaga komitmen profesional. Menurutnya, Bahasa Indonesia bukan hanya mata pelajaran, tetapi fondasi berpikir dan berbahasa siswa, sehingga guru-gurunya dituntut untuk selalu konsisten belajar, berinovasi, dan menjaga mutu pembelajaran.

    Agenda pertama menyentuh persoalan mendasar tetapi krusial: pengecekan dan verifikasi data anggota MGMP. Sesi ini dipandu oleh Natalia Rabeka, S.Pd. Para peserta tidak hanya memeriksa data, tetapi juga berdiskusi dan menyepakati kejelasan keanggotaan. Tertib administrasi dipandang sebagai fondasi organisasi yang sehat; tanpanya, seluruh program berisiko berhenti sebagai wacana.

    Sesi kedua menjadi bagian paling dinamis. Fransiskus Antonius, S.Pd., memandu berbagi praktik baik penggunaan Interactive Flat Panel (IFP) dalam pembelajaran. Para guru tidak hanya mendengar, tetapi juga mempraktikkan langsung: mengaktifkan layar, berbagi tampilan, hingga memanfaatkan IFP untuk pembelajaran dan ice breaking. Diskusi berlangsung aktif; teknologi tidak ditempatkan sebagai pajangan, melainkan sebagai alat bantu yang harus dikuasai guru.

Ketua MGMP kembali menegaskan bahwa pertemuan ini tidak boleh berakhir sebagai rutinitas seremonial. Hasil diskusi, katanya, harus dibawa ke ruang-ruang kelas. Mutu pembelajaran Bahasa Indonesia hanya akan meningkat jika guru bersedia terus belajar dan mengoreksi dirinya sendiri.

Pada sesi terakhir, forum membicarakan hal-hal yang kerap dianggap sepele tetapi menentukan keberlanjutan MGMP: kesepakatan pembuatan kemeja bagi anggota baru dan jersey MGMP, iuran anggota, rencana tindak lanjut, serta informasi pertemuan berikutnya. Semua dibahas secara terbuka, tanpa berputar-putar.

Sekretaris MGMP Adrianus Andika Richardo, M.Pd. turut mengecek kesiapan jadwal pertemuan berikutnya, memastikan agenda ke depan tetap terarah dan tidak terjebak pada rutinitas tanpa makna.

    Pertemuan itu berakhir tanpa tepuk tangan panjang. Namun justru di situlah maknanya: kerja sunyi guru-guru yang tetap setia belajar, demi murid-murid yang mungkin tak pernah tahu betapa seriusnya para gurunya mempersiapkan diri. (FA)

MGMP Bahasa Indonesia.....
Maju Bersama.....
Sukses Bersama.....
Bersama Kita Bisa....

Dokumentasi 29 Januari 2026









Rabu, 28 Agustus 2024

Di Ledo, Menyemai Ilmu dan Merawat Asa

     


    Di sebuah pagi yang tenang pada hari Rabu, 28 Agustus 2024, langit Ledo tampak bersih, seolah menyambut sesuatu yang berharga. Di SMP Negeri 1 Ledo, bangunan sekolah yang kokoh mencerminkan kekuatan dan ketahanan yang menjadi fondasi utama pendidikan di dalamnya namun menyimpan banyak kisah, sekelompok guru dari berbagai penjuru Kabupaten Bengkayang berkumpul. Mereka datang bukan sekadar sebagai pendidik, tetapi sebagai penjaga nilai-nilai bahasa dan sastra. Di ruangan aula yang penuh semangat, berlangsung kegiatan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Bahasa Indonesia. Pertemuan ini, lebih dari sekadar rapat rutin, menjadi ruang di mana ide-ide baru disemai, di mana semangat kebersamaan dan perubahan dirawat.

    Pukul 09.00 WIB, acara dibuka oleh Kepala SMP Negeri 1 Ledo, Pak Muhtadi, S.Pd., seorang pemimpin sekolah yang humoris membawa suasana yang hangat namun penuh wibawa, mengingatkan para hadirin tentang arti penting sebuah pertemuan. "Pendidikan adalah tentang pembaharuan yang tiada henti," ucapnya. Kata-kata itu menggema, mengingatkan kita bahwa di dalam setiap perubahan ada tanggung jawab, dan di dalam setiap tanggung jawab ada harapan yang harus dirawat.

    Acara kemudian dilanjutkan dengan sambutan dari Ketua MGMP Bahasa Indonesia, Fransiskus Antonius, S.Pd. Ia menyampaikan, dengan bahasa yang lugas namun penuh makna, tentang tantangan dan peluang yang dihadapi oleh para guru di era baru pendidikan ini. “Kita berada di persimpangan,” katanya, “di mana pengajaran bukan hanya soal materi dan kurikulum, tetapi juga tentang bagaimana kita bisa memberikan ruang bagi siswa untuk menemukan dirinya sendiri.” Dalam kata-katanya ada semacam ajakan untuk terus melangkah, untuk tidak berhenti pada status quo, tetapi untuk maju bersama.

   Tema besar yang diangkat dalam kegiatan ini adalah Implementasi Kurikulum Merdeka. Supriyatin, S.Pd., dan Meliyani, S.Pd., dua narasumber yang sekaligus adalah anggota MGMP, membahas pengimbasan kurikulum tersebut. Mereka mengajak para peserta untuk merenungkan makna “merdeka” dalam konteks pendidikan. Ada semacam dialog batin yang muncul di sini: bagaimana kita bisa membebaskan siswa dalam belajar, tetapi tetap memberikan mereka pijakan yang kokoh? Pertanyaan itu menggantung di udara, dijawab dalam diskusi yang intens, dan mencerminkan kegelisahan yang tulus untuk mencari format pendidikan yang lebih manusiawi dan adaptif.

    Tidak hanya diskusi tentang teori dan konsep, pertemuan ini juga membahas hal-hal yang lebih praktis. Yunardi, Kepala SMP Negeri 04 Monterado, berbicara tentang pentingnya keterampilan desain dan editing video dalam pengajaran. Di tengah zaman digital, di mana visual berbicara lebih kuat dari teks, Yunardi mengingatkan bahwa guru harus menguasai media baru ini. “Mengajar bukan lagi hanya dengan kapur dan papan tulis,” katanya, “tetapi dengan layar dan suara, dengan gambar dan narasi.” Di ruangan itu, peserta menyadari bahwa dunia bergerak cepat, dan mereka harus beradaptasi, atau tertinggal.

     Ada sesuatu yang magis dalam setiap pertemuan semacam ini di mana kata-kata bertemu dengan gagasan, di mana guru-guru tidak hanya belajar tetapi juga saling menguatkan. Semua yang hadir mendapatkan e-sertifikat, tanda bahwa mereka telah berpartisipasi, bahwa mereka telah menyerap ilmu, bahwa mereka adalah bagian dari perubahan. Namun, lebih dari itu, mereka membawa pulang sesuatu yang mungkin lebih penting: kesadaran bahwa mereka tidak sendiri, bahwa di tengah segala tantangan, ada solidaritas yang mengikat mereka.

    Ketika acara ditutup, sebuah kalimat diucapkan bersama: "MGMP Bahasa Indonesia... Maju Bersama, Sukses Bersama, Bersama Kita Bisa." Kata-kata ini tidak hanya menjadi slogan, tetapi semacam mantra yang mengingatkan kita akan kekuatan kebersamaan. Dalam kesunyian Ledo yang damai, kata-kata itu menggema, menguatkan semangat, dan memberikan harapan.

    Hari itu, di bawah langit Kalimantan yang cerah, di sebuah aula sekolah yang bersih dan tertata rapi, MGMP Bahasa Indonesia menjadi lebih dari sekadar forum rutin. Ia menjadi ruang bagi refleksi dan aksi, bagi pengetahuan dan pemahaman, bagi kesadaran dan kebersamaan. Dan di sana, di antara bangku-bangku dan meja-meja, sebuah perjalanan baru telah dimulai sebuah perjalanan untuk terus belajar, untuk terus maju, untuk terus merdeka dalam arti yang sesungguhnya.


By: Frans.A


Kamis, 29 Februari 2024

Pendidik Mapel Bahasa Indonesia Tingkat SMP Kembali Ikuti MGMP Kabupaten

 Yel yel : MGMP Bahasa Indonesia..... Maju bersama....Sukses bersama... Bersama kita bisa.....



Lumar, Bengkayang – Pengurus dan anggota MGMP Bahasa Indonesia SMP Kabupaten Bengkayang hari ini, Kamis (29/02) mengikuti kegiatan rutin Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Bahasa Indonesia tingkat SMP. Kegiatan ini dilaksanakan di SMP Negeri 1 Lumar kecamatan Lumar Kabupaten Bengkayang  yang dimulai pada pukul 08.30 WIB.

Pertemuan diawali dengan acara yang dipandu oleh Ibu Supriyatin, S.Pd. sebagai Koordinaor Bidang kurikulum MGMP Bahasa Indonesia SMP Kabupaten Bengkayang.  Dan sambutan ketua MGMP Bahasa Indonesia SMP  Kabupaten Bengkayang yaitu Fransiskus Antonius, S.Pd. Ia memberikan apresiasi dan ucapan terima kasih kepada bapak/ibu yang sudah menghadiri kegiatan MGMP ini. “Semoga dengan suasana kebersamaan ini bisa menambah semangat dan tekad bapak/ibu mengikuti kegiatan ini dalam mencapai tujuan kita bersama” imbuhnya.

Selanjutnya Acara dibuka oleh Kepala SMP Negeri 1 Lumar yaitu Bapak Fransiskus Karsudianto, M.Pd. dalam sambutannya ia memberikan apresiasi dan menitipkan pesan kepada pengurus dan anggota MGMP Bahasa Indonesia agar dapat memberikan output “paling tidak dapat membuat perangkat ajar berupa modul ajar” imbuhnya.

Selanjutnya kegiatan MGMP kali ini diisi dengan agenda pertemuan yaitu menyusun AD/ART MGMP Bahasa Indonesia SMP Kabupaten Bengkayang, membahas program kerja MGMP Bahasa Indonesia SMP kabupaten Bengkayang Tahun 2024, penyampaian laporan keuangan 2023, dan membahas hal-hal yang relevan. (fa)



dokumentasi MGMP Bhs Indo


Selasa, 13 Februari 2024

Filosofi Logo SMP Negeri 1 Bengkayang

LOGO SMP NEGERI 1 BENGKAYANG



Perisai

:

Melambangkan ketahanan, kekuatan, dan keutuhan pribadi.

Bintang

:

Melambangkan keunggulan  atau mengandung makna prestasi.

Dua Burung Enggang

:

Burung Enggang dalam kepercayaan suku Dayak adalah simbol penguasa alam. Dua burung enggang Melambangkan keseimbangan dan konsistensi dalam menciptakan generasi unggul dan akan terus berkembang mengikuti perkembangan zaman. Serta sebagai sumber ilmu pengetahuan yang akan menghasilkan pelajar-pelajar yang unggul, berbudi luhur, dan berkepribadian, serta mampu berperan aktif dalam pembangunan bangsa.

Pelajar kuning merah biru

:

Melambangkan pelajar-pelajar  yang beragam.

Buku

:

Melambangkan pustaka ilmu, merupakan sumber dari segala ilmu pengetahuan.

Padi dan kapas

:

Melambangkan kemakmuran dan persatuan yang erat.

1966

:

Tahun berdirinya sekolah.

2023

:

Tahun dilaunching/diterbitkannya logo sekolah

Warna biru

:

Melambangkan semangat dan etos kerja yang tinggi dan menghasilkan insan yang cerdas.

Lingkaran putih

:

Melambangkan konsentrasi serta fokus yang tinggi.

Garis kuning

:

Melambangkan kesetiaan dan optimisme.

Pita

:

Melambangkan kreatifitas dan inovasi yang fleksibel seiring tuntutan perkembangan kemajuan zaman.

Tulisan Pita

:

Mengandung visi sekolah.


Lambang MGMP Bahasa Indonesia SMP Kabupaten Bengkayang

 


FILOSOFI LOGO/LAMBANG

MGMP Bahasa Indonesia SMP Kabupaten Bengkayang






Lingkaran

:

Memiliki arti tidak memiliki awal atau akhir,
abadi, dan sempurna.

Internet

:

Melambangkan mengikuti perkembangan zaman.  memberi penekanan bahwa di zaman sekarang guru harus dinamis mengikuti perkembangan zaman menuju digitalisasi serta mampu berperan aktif dalam pembangunan bangsa.

Obor api Merah

:

Obor dan api melambangkan semangat yang berapi api dan akan terus digenggam dengan erat hingga mencapai tujuan

Pena dan Buku

:

Melambangkan Life Long Education (belajar sepanjang hayat) untuk kebahagiaan dan kesejahteraan lahir batin serta mencapai kemajuan Bangsa dan Negara. Pena yang menunjuk ke arah buku artinya konsisten dan fokus dalam mewujudkan generasi yang cerdas dan beretika, sehingga ketercapaian cita-cita dunia pendidikan yang ingin menciptakan manusia yang cerdas dan berkarakter dapat terwujud.

Garis Hijau

:

Melambangkan  kesuburan dan kemakmuran.

Merah Putih

:

Melambangkan Bendera NKRI.

Warna Biru

:

Melambangkan semangat dan etos kerja yang tinggi serta menggambarkan sebuah perasaan dan pikiran yang tenang.

Tulisan Atas

:

Menunjukkan nama komunitas MGMP Bahasa Indonesia

Tulisan Bawah

:

Menunjukkan nama daerah


“Ketika Kabut Asap Menyelimuti, Semangat Guru Tetap Menyala”

(Dok.2019)                                                                            (Dok.2019)                                            ...