Minggu, 01 Februari 2026

Guru Bahasa Indonesia Bengkayang Menguji Komitmen Profesi di Sungai Betung

 



       Sungai Betung—Di sebuah ruang kelas SMP Negeri 1 Sungai Betung, Kamis (29/1/2026), para guru Bahasa Indonesia SMP dan MTs se-Kabupaten Bengkayang berkumpul bukan sekadar untuk mencatat agenda rutin. Mereka datang untuk menata ulang komitmen profesi: menertibkan data, berbagi praktik baik, dan merumuskan langkah ke depan.

Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Bahasa Indonesia Kabupaten Bengkayang yang berlangsung sejak pukul 08.30 hingga selesai itu diikuti oleh pengurus dan anggota MGMP. Tidak ada gegap gempita. Acara dibuka secara sederhana lagu kebangsaan, lagu Mars Gembira Bergerak, doa, dan sambutan. Namun arah pertemuan jelas: memperkuat peran MGMP sebagai ruang belajar guru, bukan sekadar forum administrasi.

Dalam sambutannya, Fransiskus Antonius, S.Pd. sebagai Ketua MGMP Bahasa Indonesia Kabupaten Bengkayang menegaskan bahwa MGMP harus menjadi wadah berbagi praktik baik dan peningkatan kompetensi guru secara berkelanjutan. Forum ini, menurutnya, mesti melahirkan ide-ide segar pembelajaran. Guru tidak cukup hanya mengajar; ia harus terus belajar agar pembelajaran di kelas tetap hidup dan bermakna bagi siswa.

Kegiatan secara resmi dibuka oleh Kepala SMP Negeri 1 Sungai Betung, Susanto, S.Pd. Dalam sambutannya, ia menyampaikan apresiasi atas kehadiran para guru Bahasa Indonesia se-Kabupaten Bengkayang serta menaruh harapan besar agar MGMP Bahasa Indonesia terus menjaga komitmen profesional. Menurutnya, Bahasa Indonesia bukan hanya mata pelajaran, tetapi fondasi berpikir dan berbahasa siswa, sehingga guru-gurunya dituntut untuk selalu konsisten belajar, berinovasi, dan menjaga mutu pembelajaran.

    Agenda pertama menyentuh persoalan mendasar tetapi krusial: pengecekan dan verifikasi data anggota MGMP. Sesi ini dipandu oleh Natalia Rabeka, S.Pd. Para peserta tidak hanya memeriksa data, tetapi juga berdiskusi dan menyepakati kejelasan keanggotaan. Tertib administrasi dipandang sebagai fondasi organisasi yang sehat; tanpanya, seluruh program berisiko berhenti sebagai wacana.

    Sesi kedua menjadi bagian paling dinamis. Fransiskus Antonius, S.Pd., memandu berbagi praktik baik penggunaan Interactive Flat Panel (IFP) dalam pembelajaran. Para guru tidak hanya mendengar, tetapi juga mempraktikkan langsung: mengaktifkan layar, berbagi tampilan, hingga memanfaatkan IFP untuk pembelajaran dan ice breaking. Diskusi berlangsung aktif; teknologi tidak ditempatkan sebagai pajangan, melainkan sebagai alat bantu yang harus dikuasai guru.

Ketua MGMP kembali menegaskan bahwa pertemuan ini tidak boleh berakhir sebagai rutinitas seremonial. Hasil diskusi, katanya, harus dibawa ke ruang-ruang kelas. Mutu pembelajaran Bahasa Indonesia hanya akan meningkat jika guru bersedia terus belajar dan mengoreksi dirinya sendiri.

Pada sesi terakhir, forum membicarakan hal-hal yang kerap dianggap sepele tetapi menentukan keberlanjutan MGMP: kesepakatan pembuatan kemeja bagi anggota baru dan jersey MGMP, iuran anggota, rencana tindak lanjut, serta informasi pertemuan berikutnya. Semua dibahas secara terbuka, tanpa berputar-putar.

Sekretaris MGMP Adrianus Andika Richardo, M.Pd. turut mengecek kesiapan jadwal pertemuan berikutnya, memastikan agenda ke depan tetap terarah dan tidak terjebak pada rutinitas tanpa makna.

    Pertemuan itu berakhir tanpa tepuk tangan panjang. Namun justru di situlah maknanya: kerja sunyi guru-guru yang tetap setia belajar, demi murid-murid yang mungkin tak pernah tahu betapa seriusnya para gurunya mempersiapkan diri. (FA)

MGMP Bahasa Indonesia.....
Maju Bersama.....
Sukses Bersama.....
Bersama Kita Bisa....

Dokumentasi 29 Januari 2026









Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Guru Bahasa Indonesia Bengkayang Menguji Komitmen Profesi di Sungai Betung

         Sungai Betung—Di sebuah ruang kelas SMP Negeri 1 Sungai Betung, Kamis (29/1/2026), para guru Bahasa Indonesia SMP dan MTs se-Kabupa...