Membangkitkan Semangat Belajar: Tokoh Senior Pendidikan Indonesia Memotivasi Guru SMP Negeri 1 Bengkayang
Bengkayang — FA.
Ada masa ketika pendidikan harus berjalan dalam keterbatasan. Ruang kelas yang biasanya dipenuhi suara guru dan peserta didik sejenak berganti menjadi layar-layar gawai. Namun, keadaan boleh berubah dan jarak boleh tercipta, tetapi semangat untuk mendidik tidak boleh kehilangan nyalanya.
Di tengah kondisi kabut asap yang melanda Bengkayang dan menyebabkan kegiatan pembelajaran dilaksanakan secara daring, keluarga besar SMP Negeri 1 Bengkayang mendapatkan pesan dan motivasi yang begitu berarti dari salah satu tokoh senior pendidikan Indonesia, Prof. Dr. H. Arief Rachman, M.Pd.
Melalui video singkat yang disampaikan melalui WhatsApp, Prof. Arief Rachman bersama Ustadz Rahmat Fajar, Wakil Kepala SMA Labschool, memberikan motivasi dan penguatan kepada guru-guru SMP Negeri 1 Bengkayang.
Pesan tersebut hadir bukan sekadar sebagai sapaan. Ia menjadi pengingat bahwa menjadi pendidik berarti tetap berdiri ketika keadaan tidak selalu mudah. Ketika pembelajaran tidak dapat berlangsung seperti biasanya, kreativitas, keteguhan, dan ketulusan guru justru semakin dibutuhkan.
Pembelajaran boleh berpindah dari ruang kelas ke ruang digital. Papan tulis boleh berganti menjadi layar. Tatap muka boleh berubah menjadi pertemuan daring. Namun, semangat mendidik, mengabdi, dan memberikan yang terbaik bagi peserta didik harus tetap menyala.
Bagi keluarga besar SMP Negeri 1 Bengkayang, perhatian tersebut menjadi energi positif yang menguatkan langkah para guru. Sebab terkadang, seseorang tidak membutuhkan sesuatu yang besar untuk kembali bersemangat. Sebuah pesan, sebuah perhatian, dan keyakinan bahwa perjuangan mereka berarti, sudah cukup untuk membuat langkah kembali tegak.
Pendidikan Tidak Boleh Berhenti Karena Keadaan
Menjadi guru bukan hanya tentang menyampaikan materi pelajaran. Lebih jauh dari itu, guru hadir untuk menjaga harapan. Di balik setiap tugas yang diberikan, setiap pesan yang dikirim kepada peserta didik, dan setiap pembelajaran yang tetap diupayakan berlangsung, ada tanggung jawab untuk memastikan bahwa anak-anak tidak kehilangan kesempatan untuk terus belajar.
Kabut asap mungkin membatasi jarak pandang, tetapi jangan sampai ia membatasi pandangan kita tentang masa depan.
Justru dalam keadaan seperti inilah semangat pendidikan menemukan maknanya. Teknologi menjadi jembatan, kreativitas menjadi jalan, dan ketulusan menjadi tenaga yang membuat proses pembelajaran terus bergerak.
Atas perhatian dan kepedulian yang diberikan, keluarga besar SMP Negeri 1 Bengkayang menyampaikan terima kasih kepada Prof. Dr. H. Arief Rachman, M.Pd. dan Ustadz Rahmat Fajar atas pesan, motivasi, serta penguatan yang diberikan kepada para guru.
Semoga pesan tersebut menjadi bahan bakar semangat bagi seluruh pendidik untuk terus bergerak, berkarya, dan menginspirasi generasi muda, dalam keadaan apa pun.
Karena pada akhirnya, pendidikan bukan tentang keadaan yang sempurna. Pendidikan adalah tentang bagaimana kita tetap memilih untuk menyalakan cahaya, bahkan ketika keadaan sedang tidak baik-baik saja.
Mengenal Prof. Dr. H. Arief Rachman, M.Pd.
Prof. Dr. H. Arief Rachman, M.Pd. dikenal sebagai salah satu tokoh pendidikan Indonesia yang memiliki perjalanan panjang dalam dunia pendidikan. Ia pernah dipercaya menjadi Kepala Sekolah SMA Labschool Rawamangun, Jakarta, serta pernah menjadi dosen luar biasa di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia dan Guru Besar di Universitas Negeri Jakarta.
Perjalanan tersebut menunjukkan bahwa pendidikan bagi Arief Rachman bukan sekadar profesi, melainkan ruang pengabdian yang terus hidup. Bahkan ketika tidak lagi aktif mengajar seperti dahulu, perhatian dan pemikirannya terhadap dunia pendidikan tetap hadir.
Sosoknya juga dikenal luas oleh masyarakat. Ia pernah tampil sebagai pembawa acara program keagamaan Hikmah Fajar di RCTI dan terlibat dalam berbagai aktivitas sosial serta pendidikan.
Namun, di balik berbagai jabatan dan kiprahnya, ada satu hal yang tampaknya tetap melekat pada dirinya: kecintaan terhadap dunia pendidikan dan para guru.
Sosok yang Dekat dengan Guru dan Pegiat Pendidikan
Kedekatan Prof. Arief Rachman dengan para pendidik bukanlah sesuatu yang baru. Hal tersebut tergambar dalam sebuah peristiwa pada awal 2017, ketika dirinya menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Gading Pluit, Jakarta.
Dalam pemberitaan detikNews pada 1 Februari 2017, sejumlah pegiat pendidikan dan guru disebut datang menjenguk setelah mengetahui kondisi Prof. Arief. Putranya, Rahadi Arief Rachman, menyampaikan bahwa ayahnya memang memiliki hubungan yang luas dengan guru-guru dan rekan seprofesinya.
Kabar tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa hubungan seorang tokoh pendidikan dengan para guru tidak berhenti pada ruang akademik. Ada ikatan kemanusiaan yang tumbuh dari perjalanan panjang, pengabdian, dan perhatian terhadap dunia pendidikan.
Dalam kunjungan tersebut, Sandiaga Salahuddin Uno, yang saat itu menjenguk Prof. Arief dan disebut sebagai keponakannya, juga menyampaikan bahwa kondisi Prof. Arief mulai membaik. Bahkan dalam keadaan sedang menjalani perawatan, Prof. Arief masih menunjukkan semangat dan berpesan agar orang-orang di sekitarnya tetap menjaga kesehatan.
Kisah itu menjadi potret kecil tentang sosok seorang pendidik yang tetap memiliki energi untuk menguatkan orang lain, bahkan ketika dirinya sendiri sedang berada dalam masa pemulihan.
Ayah bagi Keluarga Syekh Ali Jaber
Di balik sosoknya sebagai akademisi dan tokoh pendidikan, Prof. Arief Rachman juga memiliki kisah keluarga yang pernah mendapat perhatian luas masyarakat. Ia merupakan ayah mertua Syekh Ali Jaber, ulama dan pendakwah yang dikenal luas di Indonesia.
Dalam pemberitaan mengenai wafatnya Syekh Ali Jaber pada Januari 2021, Arief Rachman mengenang sosok menantunya dengan penuh penghormatan. Ia menggambarkan Syekh Ali Jaber sebagai pribadi yang rendah hati, santun, dan mampu menjalin hubungan yang baik dengan keluarga.
Salah satu hal yang paling berkesan bagi Arief Rachman adalah panggilan “Ayah” yang digunakan Syekh Ali Jaber ketika menyapanya. Bagi Arief Rachman, panggilan tersebut bukan sekadar sapaan dalam hubungan keluarga, tetapi mencerminkan penghormatan, kesantunan, dan kerendahan hati.
Kisah tersebut memperlihatkan sisi lain dari seorang Arief Rachman: seorang tokoh pendidikan yang juga memaknai keluarga, keteladanan, dan penghormatan sebagai bagian penting dalam kehidupan.
Dan mungkin di situlah pendidikan menemukan maknanya yang paling sederhana—bukan hanya apa yang diajarkan di ruang kelas, tetapi juga nilai-nilai yang ditunjukkan melalui sikap dan kehidupan sehari-hari.
Dari Jakarta ke Bengkayang, Semangat yang Terus Menyala
Kini, pesan Prof. Arief Rachman hadir di tengah keluarga besar SMP Negeri 1 Bengkayang.
Jarak Jakarta dan Bengkayang boleh terbentang jauh. Situasi dan zaman boleh berubah. Tetapi pesan seorang pendidik kepada pendidik lainnya selalu menemukan jalan untuk sampai.
Di tengah kabut asap, pembelajaran mungkin berlangsung melalui layar. Namun, dari layar itulah sebuah pesan kembali mengingatkan: guru harus tetap menjadi cahaya bagi murid-muridnya.
Hari ini guru mengajar melalui teknologi. Esok mungkin kembali berdiri di depan kelas. Apa pun medianya, tujuan pendidikan tetap sama: menuntun anak-anak untuk tumbuh, belajar, dan menjadi manusia yang lebih baik.
Kabut asap pada akhirnya akan berlalu. Pembelajaran daring suatu saat akan kembali menjadi pembelajaran tatap muka. Tetapi semangat untuk mendidik harus terus dijaga.
Sebab pendidikan tidak boleh berhenti hanya karena keadaan.
SMP NEGERI 1 BENGKAYANG
CERDAS DALAM BERPIKIR, UNGGUL DALAM PRESTASI.
Adil Ka’ Talino, Bacuramin Ka’ Saruga, Basengat Ka’ Jubata. 🙏
FA.
SMP Negeri 1 Bengkayang


Tidak ada komentar:
Posting Komentar