Musyawarah Guru Mata Pelajaran
(MGMP) Bahasa Indonesia Kabupaten Bengkayang yang berlangsung sejak pukul 08.30
hingga selesai itu diikuti oleh pengurus dan anggota MGMP. Tidak ada gegap
gempita. Acara dibuka secara sederhana lagu kebangsaan, lagu Mars Gembira
Bergerak, doa, dan sambutan. Namun arah pertemuan jelas: memperkuat peran MGMP
sebagai ruang belajar guru, bukan sekadar forum administrasi.
Dalam sambutannya, Fransiskus Antonius, S.Pd. sebagai Ketua MGMP
Bahasa Indonesia Kabupaten Bengkayang menegaskan bahwa MGMP harus menjadi wadah
berbagi praktik baik dan peningkatan kompetensi guru secara berkelanjutan.
Forum ini, menurutnya, mesti melahirkan ide-ide segar pembelajaran. Guru tidak
cukup hanya mengajar; ia harus terus belajar agar pembelajaran di kelas tetap
hidup dan bermakna bagi siswa.
Kegiatan secara resmi dibuka oleh
Kepala SMP Negeri 1 Sungai Betung, Susanto, S.Pd. Dalam sambutannya, ia
menyampaikan apresiasi atas kehadiran para guru Bahasa Indonesia se-Kabupaten
Bengkayang serta menaruh harapan besar agar MGMP Bahasa Indonesia terus menjaga
komitmen profesional. Menurutnya, Bahasa Indonesia bukan hanya mata
pelajaran, tetapi fondasi berpikir dan berbahasa siswa, sehingga guru-gurunya
dituntut untuk selalu konsisten belajar, berinovasi, dan menjaga mutu
pembelajaran.
Agenda pertama menyentuh
persoalan mendasar tetapi krusial: pengecekan dan verifikasi data anggota MGMP.
Sesi ini dipandu oleh Natalia Rabeka, S.Pd. Para peserta tidak hanya
memeriksa data, tetapi juga berdiskusi dan menyepakati kejelasan keanggotaan.
Tertib administrasi dipandang sebagai fondasi organisasi yang sehat; tanpanya,
seluruh program berisiko berhenti sebagai wacana.
Sesi kedua menjadi bagian paling
dinamis. Fransiskus Antonius, S.Pd., memandu berbagi praktik baik
penggunaan Interactive Flat Panel (IFP) dalam pembelajaran. Para guru
tidak hanya mendengar, tetapi juga mempraktikkan langsung: mengaktifkan layar,
berbagi tampilan, hingga memanfaatkan IFP untuk pembelajaran dan ice
breaking. Diskusi berlangsung aktif; teknologi tidak ditempatkan sebagai
pajangan, melainkan sebagai alat bantu yang harus dikuasai guru.
Ketua MGMP kembali menegaskan
bahwa pertemuan ini tidak boleh berakhir sebagai rutinitas seremonial. Hasil
diskusi, katanya, harus dibawa ke ruang-ruang kelas. Mutu pembelajaran Bahasa
Indonesia hanya akan meningkat jika guru bersedia terus belajar dan mengoreksi
dirinya sendiri.
Pada sesi terakhir, forum
membicarakan hal-hal yang kerap dianggap sepele tetapi menentukan keberlanjutan
MGMP: kesepakatan pembuatan kemeja bagi anggota baru dan jersey MGMP, iuran
anggota, rencana tindak lanjut, serta informasi pertemuan berikutnya. Semua
dibahas secara terbuka, tanpa berputar-putar.
Sekretaris
MGMP Adrianus Andika Richardo, M.Pd. turut mengecek kesiapan jadwal pertemuan
berikutnya, memastikan agenda ke depan tetap terarah dan tidak terjebak pada
rutinitas tanpa makna.
Pertemuan itu berakhir tanpa
tepuk tangan panjang. Namun justru di situlah maknanya: kerja sunyi guru-guru
yang tetap setia belajar, demi murid-murid yang mungkin tak pernah tahu betapa
seriusnya para gurunya mempersiapkan diri. (FA)




